BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Pengertian Merajan
Merajan berasal dari kata raja
mendapat awalan pe dan me serta akhiran an sehingga menjadi pamerajan yang
berarti tempat raja. Raja yang dimaksud ialah Raja-raja, para Arya dan
lain-lain yang dianggap berjasa pada zaman dahulu kala dan karena jasanya itu
sehingga kedudukannya disamakan dengan Dewa/bhatara serta dibuatkan pura
kahyangan.
Pada waktu hari raya misalnya hari
raya Kuningan, masyarakat Hindu di Bali diharuskan untuk berziarah ke
tempat-tempat suci tersebut guna memberi hormat sebagai penghargaan kita kepada
roh-roh suci yang telah meninggal. Akan tetapi karena tempat suci itu letaknya
berjauhan dan tidak mungkin bisa dicapai dalam satu hari perjalanan, maka tiap
ikatan keluaraga diwajibkan membuat pamerajan di lingkungannya masing-masing.
Fungsi sanggah /Pamerajan berdasarkan
keyakinan umat Hindu di Bali yaitu: 1) Sebagai tempat suci untuk memuja Sang
Hyang Widhi Wasa dan para Leluhur/Kawitan. (2) Sebagaitempat berkumpul sanak
keluarga dalam upaya mempererat tali keluarga. (3) Sebagai tempat kegiatan
social/pendidikan yang berkaitan dengan Agama.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pasek Gelgel
Ketika Sira Brahmana beryoga, adalah Ratu Bali yang bernama
Ki Mpu Witadharma yang memerintah di Kuntuliku. Beliau mempunyai puta bernama
Ki Mpu Wiradharma. Kemudian Mpu Wiradharma menurunkan Ki Mpu Lampita, Ki Mpu
Ajnyana, dan Ki Mpu Pastika.
Ki Mpu Lampita menurunkan Ki Mpu Kuturan dan Mpu Pradah. Ki
Mpu Ajnyana menurunkan Ki Mpu Panabda. Ki Mpu Panabda diajak tinggal di
Padang dan pindah dari Jawa, tetapi Mpu Pradah tidak ikut.
Kemudian Ki Mpu Panabda kemenakan dengan Mpu Kuturan dan Mpu
Panabda menurunkan Ki Mpu Jiwaksara. Mpu Jiwaksara menurunkan Ki Mpu Ketek yang
nantinya melahirkan Arya Tatar. Arya Tatar menurunkan Ki Patih Ulung, Putra Ki
Patih Ulung yang bernama Ki Semar ini kawin dengan Ni Wredani dan melahirkan Ki
Langon, Ki Langon inilah menurunkan Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Denpasar dan Ki
Pangeran Tangkas. Keturunannya ini yang nantinya memerintah di Bali lebih-lebih
pada jayanya Majapahit.
Pada saat Ki Mpu Bradah ini memerintah, diangkatnya Sengguhu
di Kuntuliku. Mpu Bradah ini sangat gaib dan selalu beranjangsana ke Jawa dan
ke Bali sehingga diperingati dengan adanya Sugian Jawa dan Sugihan Bali.
Mantra, japa, jampi dari Hyang Iswara. Jampi-jampi Hyang Wisnu untuk diucapkan
demi keselamatan dunia. Dalam hal ini dilengkapi dengan sarana pecaruan sajian.
Tersebutlah Bhatara Brahma berputra Bhatara Gni Jaya yang berstana
di Besakih yang nantinya menurunkan 5 orang putra yang bernama Sira Wang Bang
Sidhimantra. Sang Mpu Witadharma dan Sira Sang Kul Putih yang memerintah di
Madura, Mpu Witadharma datang ke Gelgel bersama Hyang Gnijaya yang berstana di Gunung
Lempuyang. Suatu ketika datang putra beliau dari Majapahit bersama para Resi
tiba lah di Padang. Putranya itu bernama Sang Kul Putih. Perjalanan beliau ini
adalah ke Gelgel, bertemu dengan Sang Mpu Witadharma dan pergi ke Besakih
bertemu dengan Mpu Pradah. Setelah itu Hyang Gnijaya moksa dan Sang Kul Putih
bersama keluarganya tetap tinggal di Besakih.
Semua prati-santana dari Bhatara Gnijaya yang selalu bakti
dan hormat ke Gunung Lempuyang dan mendirikan mereka Parhyangan. Setelah lama
beliau berada di Besakih, datanglah turunlah Bhatara yang terkenal amat sakti
yaitu putra dari Bhatara Pasupati dari Gunung Mahameru. Putra itu bernama
Bhatara Mahadewa adik dari Bhatari Danu Permaisuri Bhatara di Gunung Batur.
Kemudian diceriterakan Sang Kul Putih moksa di Besakih menuju Sunialoka. Begitu
pula Ki Pasek kembali pindah menuju Gelgel, dan Ki Pasek Prateka pindah dari
Lempuyang. Sebelum Ida meninggalkan dunia, beliau dapat memberikan ajaran
kepada putra Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Denpasar, Ki Pangeran Tangkas, Ki Pasek Tohjiwa,
Ki Pasek Nongan, Ki Pasek Prateka agar melaksanakan upacara dan selalu hormat
kepada Ida Bhatara. Juga mengenai ajaran pelaksanaan upacara yajnya seperti
kacuntakan dan pelaksanaan pitra yajnya.
Diceriterakan Ki Kabayan di Pura Besakih yang bernama Toh
Jaya yang memangku Ida I Dewa Ratu Kidul. Dan Ki Pasek Selat yang bernama I
Sedahan menjaga hasil bumi yang dipergunakan untuk melaksanakan upacara di
Besakih dan kedua beliau ini membuat peraturan- peraturan dengan istilah Raja
Purana.
Kemudian
disebutkan kedatangan Raja Majapahit di bawah Gajah Mada ke Bali untuk membekuk
raja Bali yang bernama Dalem Beda-Danaya yang terkenal sakti dan angkara murka.
Kedatangan Gajah Mada bersama Patih Mega Prawa Tatar ke Bali atas petunjuk dari
Bhatara Mahadewa untuk menghancurkan angkara murka. Pemerintahan di Bali selalu
menerapkan tata pemerintahan di Majapahit baik parhyangan, tata wilayah dan
tata pergaulan manusianya.
Setelah penertiban pemerintahan Dalem, diadakan pembagian
kekuasaan (Mandesain) kepada keturunan (keluarga Ki Pasek) sebab Ki Pasek
Gelgel sangat hormat kepada Dalem. Seperti misalnya Ki Pasek menguasai Batur,
Songan dan sebagainya. Ki Bandesa di Datah, Tista, Juntal, Tulamben, di Kubu,
dan di Baturinggit. Sedangkan untuk tugas keamanan di Dalem, diangkat lah Ki
Pangeran Tangkas.
Diceriterakan batas- batas daerah Ki Pasek Ngis yaitu di
kulon perbatasan dengan Gunung Umbalan, di sebelah wetan berbatasan dengan
belokan sungai, di sebelah Kidul. Juga pemeliharaan babi, pertanian diatur
dengan seksama. Bila mana I Pasek mendirikan bangunan, patut lah I Pasek Ngis
mengerjakan kayunya.
2.2 Pelinggih Taksu di Merajan

Indriyani
parany ahur
indriyebhyah
param manah.
manasas
tu para budhir
yo
buddheh pratas tusah.
(Bhagawad
Gita Gita IV.42).
Maksudnya:
Sempurnakanlah
indriamu, tetapi kesempurnaan indria berada di bawah kesempurnaan pikiran,
kekuatan pikiran berada dalam pencerahan kesadaran budhi. Yang paling suci
adalah Atman.
MEMELIHARA
kesehatan indria agar dapat berfungsi secara sempurna merupakan upaya hidup
sehari-hari yang wajib dilakukan. Indria tersebut adalah alat untuk dapat kita
merasakan adanya suka dan duka dalam kehidupan ini. Cuma indria yang sehat
sempurna itu harus digunakan di bawah kendali pikiran yang cerdas. Kecerdasan pikiran
itu dilandasi oleh kesadaran budhi yang bijaksana. Struktur diri yang demikian
itulah yang akan dapat mengimplementasikan kesucian Atman dalam wujud perilaku.
Indria,
pikiran dan kesadaran budhi yang mampu menjadi media kesucian Atman itulah yang
menyebabkan orang disebut mataksu dalam hidupnya. Kata ''taksu'' berasal dari
kata ''aksi'' artinya melihat. Melihat itu dengan cara pandang yang
multidimensi itulah menyebabkan orang disebut mataksu. Melihat sesuatu tidak
hanya dengan mata fisik saja. Pandangan mata fisik itu dianalisis oleh
pandangan pikiran yang cerdas dan dipandang dengan renungan rohani yang
mendalam. Cara pandang yang demikian itulah yang akan dapat melihat sesuatu
dengan multidimensi. Penglihatan yang multidimensi itulah menyebabkan orang
mataksu.
Tempat
pemujaan sebagai Ulun Karang atau hulunya rumah tempat tinggal bagi umat Hindu
di Bali umumnya disebut Merajan atau Sanggah Merajan. Di tempat pemujaan yang
disebut Merajan Kamulan itu ada salah satu pelinggihnya disebut Taksu.
Pelinggih Kamulan umumnya didirikan di leret timur dari areal Merajan hulu
pekarangan. Pelinggih Kamulan itulah sebagai pelinggih utama. Sebutan lain dari
Merajan tersebut adalah Kemulan Taksu atau juga disebut Pelinggih Batara Hyang
Guru.
Menurut
Lontar Purwa Bhumi Kamulan, Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau
Sidha Dewata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar Gayatri menyatakan orang
yang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah diupacarai ngaben rohnya disebut
Pitara. Selanjutnya dengan upacara Atma Wedana barulah disebut Dewa Pitara.
Menurut
Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar
kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer.
Setelah roh diyakini mencapai status Dewa Pitara inilah ada prosesi upacara
yang disebut upacara Dewa Pitra Pratistha. Umat Hindu di Bali umumnya
menyebutnya upacara Nuntun Dewa Hyang atau juga disebut Ngalinggihan Dewa Hyang
di Pelinggih Kamulan. Karena itulah berbagai lontar menyatakan bahwa Pelinggih
Kamulan sebagai stana Sang Hyang Atma.
Di
leret utara dari areal tempat pemujaan Merajan salah satu pelinggihnya ada yang
disebut Pelinggih Taksu. Karena itu tempat pemujaan Ulun Karang itu juga
disebut Pelinggih Kamulan Taksu. Dalam Lontar Angastya Prana ada diceritakan
bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa.
Setelah ada sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka
Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia.
Diceritakan
jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Mengapa takut, karena hidup di dunia itu
banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung
meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang
membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan
bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu
akan membantu kamu mengatasi segala derita.
Untuk
itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur
Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom.
Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang
bayi dalam kandungan ibunya. Kedokteran dapat menjelaskan secara ilmiah apa
fungsi keempat unsur yang melindungi bayi dalam kandungan ibunya itu.
Diceritakan
secara mitologi dalam Lontar Angastia Prana sang jabang bayi bersedia minta
tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang
Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh
lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang
jabang bayi lahir ke dunia.
Setelah
sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan
perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang
Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi
seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan
sampai meninggal.
Saat
bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat
kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben,
saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna.
Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih
Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. Karena itulah tempat
pemujaan di Ulun Karang itu disebut Kamulan Taksu sebagai Batara Hyang Guru.
Dalam
Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima
guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan
keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah sebagai prosesi untuk menstanakan
Atman sebagai Batara Hyang Guru dalam kehidupan keluarga inti bagi umat Hindu
di Bali.
Dengan
adanya Pelinggih Taksu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam Merajan
Kamulan inilah ada suatu nilai spiritual yang patut dipetik sebagai penuntun
hidup di bumi ini. Dengan adanya Pelinggih Kamulan Taksu ini dapat dikembangkan
suatu pandangan bahwa bagaimana konsep taksu dari sudut pandang Hindu dalam
sistem budaya spiritual di Bali. Dengan konsep yang benar itulah kita jaga
taksu Bali ke depan untuk menghadapi pergolakan kehidupan global yang semakin
dinamis.
2.3 Pelinggih Rong Tiga

Pelinggih Rong Tiga merupakan Kahyangan Tiga yang berada
dalam lingkungan keluarga atau dilingkungan masyarakat terkecil. Maksud dari
pembangunan pelinggih Rong Tiga dalam lingkungan keluarga adalah agar kita
selalu ingat akan kebesaran Tuhan dalam kaitannya dengan hutang kita yang
disebut Tri Rnam.
Tri
Rnam terdiri dari:
- Kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebagai pencipta yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan dengan segala kebutuhan hidup.
- Hutang kepada leluhur, terumata kepada bapak/ibu yang telah melahirkan,merawat dan membesarkan kita.
- Hutang kepada Rsi, yang telah berjasa mengajarkan kepada kita mengenai Agama, Kebudayaan dll
Dengan
adanya pelinggih Rong Tiga, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita
telah diajarkan agar kita selalu melakukan Yadnya yang paling kecil, tujuan
Yadnya adalah untuk menanamkan rasa suci dan iman, selain sebagai melebur dosa
kita.
Setiap
pembangunan pelinggih harus berisi pedagingan dalam tingkatan nista, madya
maupun utama yang merupakan lambang kekuatan/kesucian jiwa.
Hal
ini tersurat dalam lonta Dewa Tattwa: “Muwah yan ana angwangun Kahyangan, yan
nora mapadagingan nista, madya, utama salwir ikang wewangunane maharan astaning
Dewa, dudu Kahyangan Dewa, dadi umahing detia kubanda, tan pegatan andang wiadi
sang madrawe Kahyangan, sama mangguh kagringan pamati-mati dadi salah ton,
kerangsukan ring buta pisaca”.
Terjemahan
bebasnya: Jika ada seseorang yang membangun Kahyangan tidak berisi pedangingan
nista, madya, utama semua bangunan tersebut bukan stananya Hyang Widhi Wasa,
bukan Kahyangan Dewa(Hyang Widhi) tetapi menjadi temoatnya detia kudanda, tidak
putus-putusnya menderita yang memiliki Kahyangan itu. Sesuai dengan dengan isi
lontar tersebut diatas makan upacara mendem pedangingan merupakan suatu ritual
yang bermakna utpati dan stiti agar palinggih tersebut menjadi suci dan
berfungsi sebagai lingga Dewa maupun Bhatara sebagai sinar suciNya Hyang Widhi.
2.4 Pelinggih Meru

Dalam Lontar Andha Bhuwana ada dinyatakan bahwa meru itu
sebagai lambang alam semesta (Meru ngaran pratiwimba Andha Bhuwana). Dalam
lontar yang sama juga dinyatakan sbb: Pawangunan pelinggih makadi meru muang
candi, juga pratiwimba saking pengelukunan wijaksara dasaksara mewastu
manunggal dadi Om. Artinya: Bangunan suci (pelinggih) terutama meru dan candi
juga simbol dari pemutaran huruf suci wijaksara dasaksara menunggal menjadi Om.
Dari penjelasan Lontar Andha Bhuwana ini yang menyatakan
tumpang atap meru di samping melambangkan lapisan alam juga melambangkan
pemutaran huruf suci yang disebut wijaksara sampai dasaksara. Huruf suci yang
disebut aksara itu dinyatakan sebagai ''ruping bhuwana''. Pemutaran wijaksara
sampai menjadi dasaksara dan kembali menjadi wijaksara Om itu melukiskan bahwa
di setiap lapisan alam ini ada aksara sucinya. Misalnya di Tri Loka ada Tri
Aksara Ang Ung Mang sebagai uripnya. Di Panca Loka ada Panca Aksara sebagai
uripnya. Demikian seterusnya, di setiap lapisan alam itu ada aksara simbol urip
yang menjadi sumber hidup dari setiap lapisan alam tersebut.
Apa
yang dinyatakan dalam Lontar Andha Bhuwana ini sebagai penegasan dari
pernyataan Mantra Veda yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Lebih
lanjut lontar Andha Bhuwana menyatakan sbb: Sowang panta ika maka sthananira
mwah angalih aran. Catur Dasa panta ika, sapta Loka kaluhur mwang sapta Patala
ming sor. Artinya, setiap lapisan itu sebagai sthana beliau (Hyang Widhi) yang
masing-masing berganti nama.
Empat
belas lapisan sthana beliau (Hyang Widhi) yang masing-masing berganti nama.
Empat belas lapisan itu Sapta Loka ke atas dan Sapta Patala ke bawah. Apa makna
dari pelukisan semua lapisan alam ini sebagai sthana Hyang Widhi Tuhan Yang
Mahakuasa dengan sebutan yang berbeda-beda pada setiap lapisan.
Tuhan
yang selalu berada di setiap lapisan alam ini hendaknya dimaknai sebagai suatu
peringatan agar manusia selalu berlaku baik dan benar di setiap lapisan alam
ini. Asih, Punia, dan Bhakti wajib dilakukan oleh umat manusia di setiap
lapisan alam.
Asih
dan Punia kepada alam dan semua makhluk hidup termasuk manusia di setiap
lapisan alam ini. Melakukan Asih dan Punia kepada alam dan sesama umat manusia
itu sebagai salah satu wujud bakti pada Tuhan. Tidaklah tepat di suatu lapisan
alam tertentu manusia boleh saja berbuat semena-mena demi kenikmatan hidup di
lapisan yang lain. Seperti di wilayah pemukimannya, manusia menciptakan
berbagai fasilitas hidup yang memberi kenikmatan, tetapi di lapisan lain
menimbulkan kerusakan alam yang hebat.
Misalnya
manusia ingin memiliki mobil dengan berbagai merek dan jenisnya. Semuanya itu
agar mereka dapat dengan mudah ke mana maunya. Untuk memenuhi itu, berbagai
bagian bumi ini dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan akan bijih besi dan
minyak bumi. Sudah semakin banyak perut bumi dilubangi dalam-dalam dan luas
untuk mendapatkan berbagai mineral yang tak terbarukan yang dijadikan bahan-bahan
baku untuk membuat barang-barang industri demi memenuhi kebutuhan umat manusia
mendapatkan hidup yang nikmat.
Jika
sudah datang gilirannya, maka alam yang dirusak itu akan membawa manusia pada
hidup yang duka lebih dalam dari pada kenikmatan yang didapatkan. Demikian juga
untuk memiliki rumah yang mewah, indah dan memberikan kenikmatan yang serba wah
pada pemukimnya membutuhkan berbagai mineral yang tak terbarukan. Seperti besi,
ubin, pasir, semen dan juga kayu yang dapat menimbulkan kerusakan hutan.
Seandainya
semakin banyak orang yang mau tinggal di rumah yang tidak terlalu mewah dan
serba wah itu, mungkin tidak banyak sumber-sumber alam yang dirusak. Alam pun
akan asri dan lestari, hidup tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia pun akan
seimbang, tidak saling terancam.
Meru
dengan tumpang-tumpang atapnya itu hendaknya dapat memberikan kita pemahaman
bahwa hidup di lapisan alam tertentu jangan sampai merusak keadaan hidup di
lapisan alam yang lain. Meskipun kita berbuat di Bhur Loka tetapi akibatnya
dapat menembus Bhuwah Loka bahkan Swah Loka. Kalau kita berbuat tidak baik dan
benar di Bhur Loka ini seperti merabas hutan, menggunakan sarana hidup yang
serba mesin tetapi tidak laik operasional juga bisa menimbulkan kerusakan di
angkasa.
Mesin
yang tidak laik jalan misalnya mesin yang menimbulkan gas buang yang melebihi
ambang batas dapat merusak langit bahkan menimbulkan gas rumah kaca di udara.
Hal ini yang akan menghalangi panas naik ke angkasa dan balik ke bumi
menimbulkan pemanasan global membuat suhu bumi meningkat. Udara yang dihirup
oleh manusia pun menjadi semakin kotor. Hidup manusia pun akan semakin resah.
Konon larutan logam berat yang melebihi ambang batas dalam darah manusia, dapat
menimbulkan gangguan mental pada manusia.
Manusia
bisa lebih emosional dan meledak-ledak karena ada gangguan mental. Sedih dan
gembira akan diekspresikan secara ekstrim oleh manusia yang dalam darahnya
mengandung larutan logam berat melebihi ambang batas. Kalau di setiap lapisan
bumi ini kita mampu tegakan Rta dan Dharma sebagai dasar berbuat maka durian
inilah yang akan menuntun kita menuju alam tertinggi yaitu Satya Loka yang
dilukiskan oleh tumpang meru yang teratas yang juga disebut sebagai lambang
Omkara.
Dunia
ini dengan semua lapisannya berdimensi ganda. Bisa membawa manusia menuju surga
dan bisa juga sebagai sarana mengantarkan menuju neraka. Kalau hukum alam dan
hukum manusia (Rta dan Dharma) ditegakkan di setiap lapisan bumi ini maka
manusia pun dapat mencapai Satya sebagai dasar menuju surga.
2.5 Pelinggih Penunggun Karang/Jero
Dukuh Sakti

Istilah
Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan)
untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/
tegalan/ abian).
Dalam
lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam
bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti
manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah,
Pengapit Lawang, atau Patih.
Di
alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk-mahluk yang kasat mata,
tetapi juga oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata, atau roh.
Roh-roh
yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati
tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat
tinggal dan saling berebutan. Untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh
gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan. Sedahan Karang boleh
ditempatkan di mana saja asal pada posisi “teben” jika yang dianggap “hulu”
adalah Sanggah Kemulan.
Karena
fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah. Jika
tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian.
Yang
perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat:
- pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara”
- sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi akah berupa tiga buah batu: merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang”,dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang
- di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kwangen dengan uang 200, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma dengan panca aksara diikat benang tridatu
- di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura Kahyangan Tiga.
Persyaratan
ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tattwa. Jika
palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala,
tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butacuil.
Jika
sedahan karang di-”urip” dengan benar, maka fungsi-Nya sebagai Pecalang sangat
bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga
terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram, penuh kedamaian.
2.6
Pelinggih Padmasana

Padmasana
atau (Sanskerta: padmāsana) adalah sebuah tempat untuk bersembahyang dan
menaruh sajian bagi umat Hindu, terutama umat Hindu di Indonesia.Kata padmasana
berasal dari bahasa Sanskerta, menurut Kamus Jawa Kuna-Indonesia yang disusun
oleh Prof. Dr. P.J. Zoetmulder (Penerbit Gramedia,
1995) terdiri dari dua kata yaitu : “padma” artinya bunga teratai dan “asana”
artinya sikap duduk. Hal ini juga merupakan sebuah posisi duduk dalam
yoga.Padmasana berasal dari Bahasa Kawi, menurut Kamus Kawi-Indonesia yang
disusun oleh Prof. Drs. S. Wojowasito (Penerbit CV
Pengarang, Malang, 1977) terdiri dari dua kata yaitu: “Padma” artinya bunga
teratai, atau bathin, atau pusat. “Sana” artinya sikap duduk, atau tuntunan,
atau nasehat, atau perintah.Padmasana berarti tempat duduk dari teratai merah
sebagai stana suci Tuhan Yang Maha Esa (I Made Titib, 2001).
Berdasarkan dua pendapat ini, bahwa bunga teratai adalah simbol dari tempat
duduk dari dewa-dewa dan Hyang Widhi sehingga Padmasana tidak lain dari
gambaran alam semesta (makrokosmos) yang merupakan stana dari Ida Sang Hyang
Widhi Wasa.Dalam Lontar “Padma Bhuana“, Mpu Kuturan menyatakan
bahwa Bali sebagai Padma Bhuwana. Bunga teratai (padma) dijadikan simbol alam
semesta stana Hyang Widhi yang sebenarnya. Dalam Lontar “Dasa Nama Bunga”
disebut, bunga teratai adalah rajanya bunga (Raja Kesuma) karena hidup di tiga
alam — akarnya menancap di lumpur, batangnya di air, sedangkan daun dan
bunganya di atas air (udara). Karenanya, bunga ini adalah simbol Tri Loka atau
Tri Bhuwana Stana Hyang Widhi Wasa dan bunga daunnya yang berlapis-lapis
sebagai perlambang dari sembilan arah penjuru mata angin alam semesta (I Ketut
Wiana, 2004).
Posisi
padmasana adalah sikap duduk bersila dengan kedua telapak kaki dilipat ke atas,
sehingga tampak seperti posisi yang berbentuk lingkaran. Mungkin ini tidak
sesuai dengan apa yang terlihat di lapangan, bahkan pada bagian puncak
Padmasana tampak berbentuk singhasana berbentuk kursi persegi empat. Hal ini
akan terjawab kalau orang memperhatikan pesimpen pancadatu atau pedagingan yang
ditanamkan di dasar, di madya, maupun di puncak dari Padmasana (Cudamani,
1998).
Isi
pedagingan pesimpen itu, terutama pedagingan puncak yang berbentuk padma
terbuat dari emas, diletakkan paling atas di atas singhasana yang berbentuk
kursi persegi empat ini. Karena ditanam, meskipun terletak di puncak, benda itu
tidak terlihat dari luar. Rupanya pedagingan berbentuk padma dari emas inilah
yang memberi nama bangunan itu sehingga bernama Padmasana — Dewa-dewa dan Ida
Sang Hyang Widi bertahta di atasnya.
Simbol
dari Padmasana menggambarkan tingkatan alam yaitu Tri Loka (bhur, bwah dan
swah). Hal ini terlihat dari Bhedawang Nala dengan dua naga (Anantabhoga dan
Basuki) melambangkan alam bawah (bhur loka), badannya (padma termasuk
singhasana) melambangkan atmosfer bumi (bwah loka). Sedangkan swah loka tidak dilukiskan
dalam wujud bangunan tetapi di dalam pesimpen pedagingan yang berwujud padma
dan di dalam puja yang dilukiskan dengan “Om Padmasana ya namah dan Om Dewa
Pratistha ya namah.”Padma dalam Bahasa Bali artinya bunga teratai, dan Sana
artinya duduk. Dewa Siwa digambarkan sebagai Dewa yang duduk di atas bunga
teratai.
Bunga
teratai yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol delapan kemahakuasaan
Sanghyang Widhi yang disebut Asta-Aiswarya.
Asta-Aiswarya
ini juga menguasai delapan penjuru mata angin. Keistimewaan bunga padma adalah:
puncak atau mahkotanya bulat, daun bunganya delapan, tangkainya lurus, dan
tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air, dan udara.
Hal-hal
ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi Tattwa, yakni
keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.
Dengan
demikian Padmasana adalah simbol yang menggambarkan kedudukan Hyang Widhi
sebagai bunga teratai, atau dapat juga dikatakan bahwa Padmasana sebagai
tuntunan batin atau pusat konsentrasi. Bunga teratai dipilih sebagai simbol
yang tepat menggambarkan kesucian dan keagungan Hyang Widhi karena memenuhi
unsur-unsur:
- Helai daun bunganya berjumlah delapan sesuai dengan jumlah manifestasi Hyang Widhi di arah delapan penjuru mata angin sebagai kedudukan Horizontal. : Timur (Purwa) sebagai Iswara, Tenggara (Agneya) sebagai Maheswara, Selatan (Daksina) sebagai Brahma, Barat Daya (Nairiti) sebagai Rudra, Barat (Pascima) sebagai Mahadewa, Barat Laut (Wayabya) sebagai Sangkara, Utara (Uttara) sebagai Wisnu, Timur Laut (Airsanya) sebagai Sambhu.
- Puncak mahkota berupa sari bunga yang menggambarkan simbol kedudukan Hyang Widhi secara vertikal dalam manifestasi sebagai: Siwa (adasthasana/ dasar), Sadasiwa (madyasana/ tengah) dan Paramasiwa (agrasana/ puncak)
- Bunga teratai hidup di tiga alam yaitu tanah/lumpur disebut pertiwi, air disebut apah, dan udara disebut akasa.
Bunga
teratai merupakan sarana utama dalam upacara-upacara Panca Yadnya dan juga
digunakan oleh Pandita-Pandita ketika melakukan surya sewana.
2.7 Pelinggih Menjangan Salwang.

Pelinggih
Menjangan Seluang ( Salwang ) adalah pelinggih untuk menghormati jasa-jasa Mpu
Kuturan di Bali. Empu Kuturan ialah seorang Maha Rsi dari Jawa timur yang
dating ke Bali pada waktu pemerintahan Raja Marakata yaitu adik dari Airlangga.
Empu Kuturan di kenal sebagai salah satu tokoh spiritual yang memperkokoh
sendi-sendi kehidupan beragama di Bali.
Antara lain :
· Adanya Khayangan Tiga di Desa-Desa Pakraman
· Adanya Khayangan Jagat
· Adnyan Sad Kahyangan Di Bali
· Tata Cara Penyelenggaraan Desa Pakraman.
· Tata Cara Pelaksanaan Upacara dan Upakaranya.
· Mengenal Arsitektur tradisional Bali.
· Palinggih-Palinggih Meru,Tugu dan Gedong.
Dan
Mpu Kuturan juga di kenal sebagai pemersatu beberapa paham atau sekte hindu
yang ada di Bali.
Beliau
Juga Mengajarkan berbagai jenis pedagingan secara spiritual. Dan menganjurkan
membuat Sanggah atau Merajan di tiap-tiap pekarangan rumah dan lain-lainnya.
Sebenarnya,
sebelum paham atau sekte Hindu yang ada di Bali itu dapat disatukan oleh Mpu
Kuturan, sering kali terjadi pertentangan paham yang menimbulkan keributan.
Maka
Raja Gunapriya Dharmapatni ( Udayana Warmadewa ) yang bertahta di Bali pada
waktu itu pada tahun saka 910 sampai 933 yang merupakan Raja keturunan
Majapahit memandang perlu mendatangkan ahli Rohaniawan dari Majapahit, dan
beliau mengirim utusan ke Majapahit, dari Majapahit mendapat tanggapan baik,
maka dikirimlah Maha Rsi ke Bali
yaitu :
· Empu Semeru,
· Empu Garia,
· Empu Kuturan,
· Empu Gnijaya,
· Empu Baradah.
Setelah
Beliau bersama-sama di Bali Raja Gunapriya Dharmapatni mengangkat Empu Kuturan
sebagai Ketua Majelis dalam tugas penanganan tentang sekte-sekte tersebut.
Kemudian
Empu Kuturan mengadakan pertemuan dengan nama “ Samuan Tiga “ hasil keputusan Samuan tersebut mendapat
kesepakatan bahwa keagamaan didasarkan kepada Siwa dan Bhuda dan semua sekte telah
masuk kedalamnya.
Jadi
kesimpulanya yang berstana ( Malinggih ) di Palinggih Menjangan Seluang adalah
Sang Hyang Panca Rsi Terutama Empu Kuturan.
2.8 Pelinggih Ratu
Nyoman

Fungsinya adalah untuk tempat
pemujaan Sri Sedana manifestasi Ida SangHyang Widhi ( Tuhan ) sebagai Dewa
Harta Atau Kekayaan, untuk kesejahteraan hidup.
Dewa yang di puja di Sana adalah
Bathara Rambut Sedana ( Sri Sedana ) sebagai Dewa kekayaan.
2.9 Pelinggih Kawitan

Pulau
Bali pernah mengalami musibah besar di mana rakyatnya melarat karena bencana
alam yang sambung menyambung, tanaman pangan selalu rusak karena diserang hama,
dan wabah penyakit menjalar cepat mematikan manusia dan binatang peliharaan.
Menurut
Rontal Purana Pasar Agung hal ini disebabkan karena penduduk Pulau Bali tidak
“ngaturang aci” dan bersembahyang ke Pura Besakih. Ketika pemerintahan Raja
Mayadanawa selama 15 tahun, yaitu sejak tahun 959 Masehi sampai dengan tahun
974 Masehi, rakyat Bali memang benar dilarang ngaturang aci dan bersembahyang
ke Besakih.
Para
tentara kerajaan membangun pos penjagaan pertama di pinggir sungai Balingkang
(letaknya di timur pasar Menanga sedikit lewat jembatan sekarang dikenal dengan
pelinggih Yeh Ketipat) dan kedua, di Pura Manikmas sekarang, untuk menjaga agar
tidak ada penduduk yang datang ke Besakih.
Setiap
yang datang ditangkap lalu digiring ke hadapan raja Mayadanawa. Disaksikan oleh
para patihnya, yaitu Kryan Patih Kalawong dan Kryan Bedawong, Raja lalu
bersabda:
Renge
ling ngong, samangke ngong angrenge wrtha kunang padartanya ring Basukih hana
Dewa, hana Dalem; ndi hana Dalem waneh lawan ingong, ingong Dalem, ingong Dewa
yatika tan tuhu mangkana sinembah dening wong Bali… dst
…
iti ta wang ingong Dalem jati, yan ri Dalem Kadewatan dudu Dalem, ing Basukih
dudu Dewa, ingong Dewa jati, ingong haturi widhi wedana mwah sembahen ta ingong
asung uripta, mwah samidinta… dst
Jadi,
singkatnya, Mayadanawa telah menyatakan dirinya: “akulah Dewa yang patut kamu sembah,
janganlah menyembah Dewa yang ada di Besakih”.
Ini
membuat para Dewa di Kahyangan memutuskan untuk memusnahkan Mayadenawa. Bhatara
Indra diutus untuk tugas suci ini, dan akhirnya Mayadanawa dikalahkan. Bhatara
Indra lalu menitahkan agar rakyat Bali membangun kahyangan di Desa
masing-masing, taat ngaturang aci, dan bersembahyang di Besakih.
Aci
yang dititahkan itu adalah: Eka Bwana, Panca Walikrama, dan Eka Dasa Rudra. Di
saat itu Ida Bethara Samodaya nyejer di Besakih, dan ketangkil oleh seluruh rakyat
yang tinggal di Pulau Bali.
Bagi
Para Rsi, Mpu, dan arwah leluhur perintis pertama yang datang di Bali dibuatkan
palinggih di Besakih agar dapat ngiring Ida Bethara Samodaya.
Itulah
antara lain yang merupakan awal dibangunnya Pura Pedarmaan di Besakih. Kemudian
perkembangan ini lebih pesat setelah kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun
1001 Masehi. Beliau menata kembali parahyangan mulai dari Sanggah Kemulan Rong
Tiga untuk pawongan (rumah tangga),
Sanggah
Pamerajan untuk beberapa rumah tangga, di mana dipuja arwah suci para leluhur
yang berasal dari garis satu waris. Lebih besar dari Sanggah Pamerajan adalah
berturut-turut: Pura Panti dan Pura Paibon, untuk penyungsungan bagi beberapa
Sanggah Pamerajan.
Pura
Dadia untuk penyungsungan bagi beberapa Panti dan Paibon, dan Pura Kawitan,
untuk penyungsungan bagi beberapa Dadia.
Perbedaan
status Pura-Pura tersebut ditentukan oleh:
- Jumlah penyungsung.
- Jumlah dan jenis Palinggih yang ada.
- Historis (sejarah berdirinya Pura-Pura itu).
Perlu
diketahui bahwa pada umumnya tiap-tiap Sanggah Pamerajan, Panti, Paibon, Dadia,
Kawitan, bahkan Pura Pedarmaan tidak sama baik jumlah/ susunan palinggih,
maupun Ida Bethara yang di-stana-kan, karena masing-masing mengikuti sejarah
leluhurnya dahulu.
Mengenai
asal satu waris dan hubungan ke-cuntaka-an atau saling sumbah pada umumnya
sudah sulit ditemukan dalam tingkatan Kawitan, karena demikian panjangnya
silsilah leluhur yang melewati batas waktu dalam hitungan abad (ratusan tahun)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar